Manusia hidup di dunia hanya sementara, hidup yang kekal dan
sebenarnya adalah hidup di akhirat. Berikut contoh khutbah jumat merenungi
perjalan hidup manusia.
Yang ingin mempuyai filenya, silahkan klik link download di
bawah ini!.
Contoh Khutbah Jumat Merenungi Perjalanan Hidup Manusia
Contoh Khutbah Jumat Merenungi
Perjalanan Hidup Manusia
لْحَمْدُ
للهِ، خَلَقَ الخَلْقَ وَقَدَّرَ الأَشْيَاءَ، وَاصْطَفَى مِنْ عِبَادِهِ الرُّسُلَ
وَالأَنْبِيَاءَ، بِهِمْ نَتَأَسَّى وَنَقْتَدِي، وَبِهُدَاهُمْ نَهْـتَدِي، أَحْمَدُهُ
سُبْحَانَهُ بِمَا هُوَ لَهُ أَهْـلٌ مِنَ الحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأُومِنُ
بِهِ وَأَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْـلِلْ
فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ،
أَنْزَلَ عَلَيْهِ رَبُّهُ القُرآنَ المُبِينَ؛ بَلاَغًا لِقَوْمٍ عَابِدِينَ، وَجَعَلَ
رِسَالَتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، صلى الله عليه وسلموَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ : فيل أيها المسلمون أوصي نفسي
و إياكم بتقوى الله فقد فاز المتقون
Kaum Muslimin Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah
Di tengah kehidupan yang senantiasa bergulir, jumat demi
jumat berlalu, seiring itu juga khutbah demi khutbah kita perdengarkan dan
menyirami sejenak hati yang penuh ketundukan
dan mengharapkan keridhoaan Allah. Kesadaran kemudian muncul dengan
tekad untuk menjadi hamba yang Allah yang taat. Namun kadangkala dengan
rutinitas yang kembali mengisi hari-hari kita kesadaran itu kembali tumpul
bahkan luntur. Oleh sebab itulah melalui mimbar jumat ini khotib kembali
mengajak marilah kita berupaya secara sungguh-sungguh memperbaharui keimanan
dan ketaqwaan kita kepada Allah, memperbaharui kembali komitmen kita kepada
Allah yang sering kita ulang-ulang namun jarang diresapi, sebuah komitmen yang
mestinya menyertai setiap langkah kita:
إِنَّ
صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأنا من الْمُسْلِمِينَ
Artinya: “Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan
demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah termasuk orang orang
yang menyerahkan diri.”
Kaum Muslimin Jamaah Sholat Jumat yang berbahagia
Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam Tafsirnya bahwa: Suatu
ketika Umar bin Khathab ra bertanya kepada seorang sahabat bernama Ubay Ibnu
Ka’ab ra tentang taqwa walau hal itu merupakan suatu yang hal yang sangat
mereka ketahui, namun bertanya satu sama lainnya di antara mereka dalam rangka
mendalaminya adalah hal yang sangat mereka sukai. Kemudian Ubay balik bertanya:
“Wahai Umar, pernahkah engkau melalui jalan yang di penuhi duri?” Umar
menjawab, "ya, saya pernah melaluinya. Kemudian Ubay bertanya lagi: “Apa
yang akan engkau lakukan saat itu?”. Umar menjawab: “Saya akan berjalan dengan
sangat berhati-hati, agar tak terkena duri itu”. Lalu Ubayberkata: “Itulah
takwa”.
Dari riwayat ini kita dapat mengambil sebuah pelajaran
penting, bahwa takwa adalah kewaspadaan, rasa takut kepada Allah, kesiapan
diri, kehati-hatian agar tidak terkena duri syahwat dan duri syubhat di tengah
perjalanan menuju Allah, menghindari perbuatan syirik, meninggalkan perbuatan
maksiat dan dosa, yang kecil maupun yang besar. Serta berusaha sekuat tenaga
mentaati dan melaksanakan perintah-perintah Allah dengan hati yang tunduk dan
ikhlas.
Hadirin Jama’ah sholat jumat rahimakuullah
Setiap orang beriman pasti akan menyadari bahwa ketika ia
hidup di dunia ini, ia akan hidup dalam batas waktu tertentu yang telah
ditetapkan oleh penciptanya, Allah SWT. Usia manusia berbeda satu sama lainnya,
begitu juga amal dan bekalnya. Setiap orang yang berimanpun amat menyadari
bahwa mereka tidak mungkin selamanya tinggal di dunia ini. Mereka memahami
bahwa mereka sedang melalui perjalanan menuju kepada kehidupan yang kekal
abadi. Sungguh sangat berbeda dan berlawanan sekali dengan kehidupan
orang-orang yang tidak beriman. Allah berfirman:
بَلْ
تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . وَالْآخِرَةُ
خَيْرٌ وَأَبْقَى
Artinya: "Tetapi kamu (orang-orang kafir) lebih
memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih
kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17)
Sayangnya, kesadaran ini seringkali terlupakan oleh diri kita
sendiri. Padahal, bukan tidak mungkin, hari ini, esok, atau lusa, perjalanan
itu harus kita lalui, bahkan dengan sangat tiba-tiba. Jiwa manusia yang selalu
digoda oleh setan, diuji dengan hawa nafsu, kemalasan bahkan lupa, kemudian
menjadi lemah semangat dalam mengumpulkan bekal dan beribadah, membuat kita
menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah manusia yang selalu membutuhkan siraman-siraman
suci berupa Al-Quran, mutiara-mutiara sabda Rosulullah, ucapan hikmah para
ulama, bahkan saling menasehati dengan penuh keikhlasan sesama saudara seiman.
Sehingga kita tetap berada pada jalan yang benar, istiqomah melalui sebuah
proses perjalanan menuju Allah SWT.
Hadirin Jama’ah Sholat Jumat yang dimuliakan Allah
Jika kita membuka kembali lembaran kisah salafus shalih, kita
akan menemukan karakteristik amal yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada
diantara mereka yang konsent pada bidang tafsir, hadits, fiqih, pembersihan
jiwa dan akhlak, atau berbagai macam ilmu pengetahuan lainnya. Namun, satu
persamaan yang didapat dari para ulama tersebut, yaitu kesungguhan mereka
beramal demi memberikan kontribusi terbaik bagi sesama. Sebuah karya yang tidak
hanya bersifat pengabdian diri seorang hamba kepada Penciptanya saja, namun
juga mempunyai nilai manfaat luar biasa bagi generasi berikutnya.
Marilah kita renungi firman Allah berikut:
وَابْتَغِ
فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya:“Dan carilah pada apa yang
telah dianugerahkan Allah kepadamu dari (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah
kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah
berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash: 77).
Hadirin yang dimuliakan Allah
Dari ayat ini kita dapat mengambil pelajaran penting, tentang
beberapa prinsip yang perlu kita sadari bersama akan keberadaan kita di dunia
ini.
Pertama, prinsip mengutamakan kebahagiaan kehidupan akherat.
Prinsip ini menghendaki agar dalam melaksanakan kehidupan di dunia, kita
senantiasa mengutamakan pertimbangan nilai akherat. Namun perlu dipahami,
mengutamakan kebahagiaan akherat bukan berarti dalam mewujudkan kebahagiaan
duniawi diabaikan begitu saja, sebab amal akherat tidak berdiri sendiri dan
terlepas dari amal duniawi. Sungguh amat banyak amalan akherat yang berhubungan
erat dalam mewujudkan kebahagian duniawi.
Umpamanya sholat, seorang yang melaksanakan shalat dengan
tekun dan disiplin bukanlah semata-mata sebagai amal akherat yang tidak
berdampak duniawi, sebab bila shalat itu dilaksanakan menurut tuntutan Allah
dan rasulNya, yang secara berjamaah, niscaya ia akan banyak memberikan hikmah
dalam kehidupan dunia. Dengan shalat yang benar akan dapat mencegah seseorang
dari berbuat keji dan munkar. Dengan demikian manusia akan terhindarnya dari
perbuatan yang dapat merugikan orang lain, sehingga terciptalah ketenteraman
hidup bersama di dunia ini.
Begitu juga dengan infak dan shodaqoh, seorang yang beramal
dengan niatan mulia untuk mendapatkan ganjaran berupa pahala dari Allah di
akherat, maka dengan hartanya tersebut dapat memberikan manfaat bagi kehidupan
orang lain yang membutuhkan.
Kedua prinsip ‘ahsin’ yaitu senantiasa menghendaki kebaikan.
Bila seseorang menanamkan prinsip ini dalam dirinya, niscaya ia akan
menunjukkan diri sebagai orang yang pada dasarnya selalu menghendaki kebaikan.
Ia akan senantiasa berprasangka baik kepada orang lain, selalu berusaha berbuat
baik dan berkata baik dalam pergaulan di
kehidupan sehari-hari.
Maka akan selalu tampillah kebaikan demi kebaikan,
mempersembahkan sebuah karya terbaiknya untuk kemanfaatan masyarakat
disekitarnya, peduli akan kemaslahatan umum, dan meninggalkan sebuah kebaikan
yang akan selalu dapat dikenang oleh orang banyak walaupun ia sudah pergi
terlebih dahulu menuju kehidupan yang abadi.
Ketiga adalah prinsip walaa tabghil fasada fil ardh’ yaitu
prinsip untuk tidak berbuat kerusakan. Bila prinsip ini dipegang teguh,
seseorang akan lebih melengkapi prinsip yang kedua, yakni melengkapi upayanya
berbuat baik dengan upaya menghindari perbuatan yang merusak. Terjadinya
kerusakan alam, kerusakan moral, kerusakan dalam tatanan kehidupan masyarakat
sering kali terjadi karena sudah hilangnya kesadaran akan tujuan hidup yang
sesungguhnya, sehingga seorang lupa bahwa sesungguhnya ia tidak dibiarkan
begitu saja, bahwa ia akan mempertanggung jawabkan segala perbuatannya ketika
ia menghadap Allah di akherat kelak.
Hadirin sidang sholat jumat yang dimuliakan Allah
Allah swt mengingatkan kita dengan firmannya:
وَتَزَوَّدُواْ
فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ
Artinya:“Berbekallah, dan
sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqoroh: 197)
Walaupun ayat di atas menjelaskan tentang bekal penting dalam
perjalanan ibadah haji, namun sesungguhnya ia merupakan gambaran ketika manusia
akan menghadap Allah di padang mahsyar kelak, ibadah haji merupakan miniatur
gambaran manusia yang akan dikumpulkan di padang mahsyar nanti sebagaimana
halnya mereka berkumpul di padang arafah. Maka bekalan utama yang dapat
menyelamatkan itu adalah taqwa.
Firman Allah SWT di atas juga memiliki makna tersirat bahwa
manusia memiliki dua bentuk perjalanan, yakni perjalanan di dunia dan perjalanan
dari dunia. Perjalanan di dunia memerlukan bekal, baik berbentuk makanan,
minuman, harta, kendaraaan dan sebagainya. Sementara perjalanan dari dunia juga
memerlukan bekal.
Namun perbekalan yang kedua yaitu perbekalan perjalanan dari
dunia menuju akhirat, lebih penting dari perbekalan dalam perjalanan pertama
yakni perjalanan di dunia. Imam Fachrurrozi dalam dalam tafsirnya menyebutkan
ada lima perbandingan antara keduanya:
Pertama, perbekalan dalam perjalanan di dunia, akan menyelamatkan kita dari
penderitaan yang belum tentu terjadi. Tapi perbekalan untuk perjalanan dari
dunia, akan menyelamatkan kita dari penderitaan yang pasti terjadi.
Kedua, perbekalan dalam perjalanan di dunia, setidaknya akan menyelamatkan
kita dari kesulitan sementara, tetapi perbekalan untuk perjalanan dari dunia,
akan menyelamatkan kita dari kesulitan yang tiada tara dan tiada
habis-habisnya.
Ketiga, perbekalan dalam perjalanan di dunia akan menghantarkan kita pada
kenikmatan dan pada saat yang sama mungkin saja kita juga mengalami rasa sakit,
keletihan dan kepayahan. Sementara perbekalan untuk perjalanan dari dunia
menuju akhirat, akan membuat kita terlepas dari marabahaya apapun dan
terlindung dari kebinasaan yang sia-sia.
Keempat, perbekalan dalam perjalanan di dunia memiliki karakter bahwa kita akan
melepaskan dan meninggalkan sesuatu dalam perjalanan. Sementara perbekalan
untuk perjalanan dari dunia, memiliki karakter, kita akan lebih banyak menerima
dan semakin lebih dekat dengan tujuan.
Kelima, perbekalan dalam perjalanan di dunia akan mengantarkan kita pada
kepuasan syahwat dan hawa nafsu. Sementara perbekalan untuk perjalanan dari
dunia akan semakin membawa kita pada kesucian dan kemuliaan karena itulah
sebaik-baik bekal.(Tafsir Ar-Raazi 5/168)
Sesungguhnya perjalanan itu cukup berat, dan masih banyak
bekal yang perlu disiapkan. Semua kita pasti tahu bekalan yang sudah kita
siapkan masing-masing. Jika kita anggap bekalan itu masih kurang, tentu kita
tidak akan rela seandainya tidak lama lagi ternyata kita harus segera menempuh
perjalanan menuju akhirat itu.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ،
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
-----------------------

0 Response to "Contoh Khutbah Jumat Merenungi Perjalanan Hidup Manusia"
Posting Komentar