Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang paling
ditunggu-tunggu oleh umat Islam seluruh dunia, yang mana di bulan suci
ini Allah SWT menggandakan pahala kepada seluruh umat Islam yang berbuat
kebaikan.
Silahkan bisa download filenya di link dibawah
ini.!
Contoh Khutbah Jumat Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Contoh Khutbah Jumat Menyambut Bulan
Suci Ramadhan
اَلْحَمْدُ
لِلّهِ الَذِى جَعَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرَ الْخَيْرَاتِ وَالْبَرَكََةِ شَهْرَ
الطَّاعَاتِ وَالْمَبَرَّاتِ شَهْرَ الصّيَامِ وَالْقِيَامِ وَأشْهَدُ أنْ لا اِلهَ
اِلااللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنْفَرِدُ بِالْوَحْدَانِيّةِ وَالْقُدْرَةِ
الّذِى فَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِ وَالاَيَّامِ عَلَى بَعْضٍ وَجَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ
مِنَ الشُّهُوْرِالْعِظَامِ وَأيَّامَهُ مِنَ الايَّامِ الْكِرَامِ وَأشْهَدُ أنَّ
سَيِّدَنَا مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِى أرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ
اللّهُمَّ صَلي وِسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ لِقَاءِ رَبِّهِمْ. فَيَا
عِبَادَاللهِ اتَّقُوْاللهَ وَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَاِنَّ مَصِيْرَهَا
اِلَى الزَّوَالِ
Sidang Jum'at yang dimuliakan Allah
Puja dan puji syukur kepada Allah karena pada tahun ini kita
kita diberi kesempatan kembali untuk bertemu dengan tamu yang sangat mulia,
yakni bulan suci Ramadhan. Oleh sebab itu, marilah kita bersama-sama menyambut
bulan suci ini dengan ucapan ahlan wa sahlan wa marhaban ya ramadhan, selamat
datang Ramadahan 1428 H, bulan yang dimuliakan Allah, bulan yang penuh dengan
barokah dan ampunan.
Perintah untuk menyambut bulan ini dengan penuh rasa
kegembiraan termaktub dalam sebuah hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:
قَدْ
آتََاكُمْ رَمَضَانُ سَيِّدُ الشُّهُوْرِ فَمَرْحَبًا بِهِ وَاَهْلاً جَاءَ شَهْرُ
الصِّيَامِ بِبَرَكَاتٍ فَأكْرِمْ بِهِ
Artinya: "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan,
penghulu segala bulan. Maka hendaklah engkau mengucapkan selamat datang
kepadanya. Telah datang bulan puasa dengan segenap berkah di dalamnya maka
hendaklah engkau memuliakannya."
Bulan ini adalah bulan yang diberkati, bulan ini adalah bulan
diturunkannya Al-Qur'an, bulan ini adalah bulan terjadinya peristiwa Lailatul
Qadar, sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan dan di bulan juga
merupakan bulan dimana pintu maghfirah (ampunan) dibuka selebar-lebarnya serta
segenap amal kebajikan dilipatgandakan pahalanya. Mengingat betapa mulianya
bulan ini, maka alangkah bahagianya jika pada momentum Ramadhan ini kita dapat bersama-sama
meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita serta mengisinya dengan
segala kebajikan.
Sidang Jum'at yang dimuliakan Allah
Dari seluruh keistimewaan Ramadhan, yang paling penting bagi
kehidupan umat manusia terletak pada kewajiban untuk melaksanan puasa
sebagaimana firman Allah SWT:
يا
ايُّهَا الّذِيْنَ امَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ
مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan
atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertakwa." (QS Albaqarah 2: 183)
Dalam ayat ini, tersirat makna bahwa sebenarnya puasa
bukanlah ibadah yang baru dilaksanakan ketika kedatangan Islam akan tetapi
sudah dilaksanakan jauh sebelumnya. Para pakar perbandingan agama mendapatkan
data bahwa sebelum mengenal agama Samawi, orang-orang Mesir kuno, orang-orang
Yunani dan Romawi telah mengenal puasa.
Demikian juga dengan orang-orang Majusi, Budha, Yahudi dan Kristen. Dalam
karyanya "al-Fahrasat" Ibnu Nadim menyebutkan bahwa orang-orang
Majusi berpuasa tiga puluh hari dalam setahun. Mereka juga melakukan
puasa-puasa sunnah yang ditujukan sebagai penghormatan kepada bulan, Mars dan
Matahari. Sementara At-Thabari dalam tafsirnya, Jami` al-Bayan, menyebutkan
bahwa seluruh pemeluk agama samawi (ahl
kitab) diwajibkan oleh Allah untuk melaksanakan puasa.
Barangkali terdapat perbedaan mengenai tata cara berpuasa
antara satu agama dengan agama lainnya. Namun yang penting untuk kita camkan,
dipraktekkannya model ibadah dengan cara menahan diri dari makan, minum dan
hawa nafsu oleh agama-agama dan umat manusia dari rentang masa yang satu ke
rentang masa berikutnya menegaskan bahwa ibadah puasa merupakan ibadah yang
bersifat universal. Ia dipandang sebagai jalan yang sangat efektif dalam dalam
mendekatkan diri kepada Tuhan.
Sedangkan dalam Islam, puasa memiliki keistimewaan yang berbeda dengan ibadah-ibadah lain. Dalam
sebuah Hadits Qudsi, Allah berfiman:
كُلُّ
عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ اِلا الصَّوْم فَاِنَّهُ لِي وَاَنَا أجْزِي بِهِ
Artinya: "Semua amal anak Adam (manusia) untuk
dirinya sendiri kecuali puasa, sebab
puasa itu adalah untuk-Ku, dan
Aku sendiri yang akan membalasnya."
Ketika melaksanakan puasa, sebenarnya tidak ada yang dapat
mengetahui apakah seseorang sedang berpuasa atau tidak. Tidak menutup
kemungkinan adanya orang yang terlihat berpuasa namun sebenarnya ia tidak
melaksanakan ibadah puasa. Ketika sepi dari orang lain bisa saja ia makan,
minum atau mengumbar hawa nafsu tanpa
sepengetahuan orang lain. Pendek kata, hanya si pelakulah yang mengetahuinya
apakah ia sedang berpuasa atau tidak. Lalu apakah yang membuat seseorang tetap
menjaga puasanya? Satu-satunya jawaban adalah keimanan yang terpatri dalam
jiwanya.
Dalam konteks ini, puasa sebenarnya adalah latihan dan uji
kesadaran akan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah, Dzat yang mengetahui
dan mengawasi segenap tingkah laku manusia, baik yang terlihat maupun yang
tersembunyi. Jika seseorang yang berpuasa betul-betul berdasarkan motivasi
keimanan nan dapat menjaga tindak tanduknya selama berpuasa maka ia akan
mendapatkan pencerahan ruhani dan dikembalikan kepada fitrahnya sebagai
manusia, makhluk yang mulai tanpa bercak noda dan dosa sebagaimana sabda
Rasulullah:
شَهْرُ
رَمَضَانَ شَهْرٌ كَتَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وسَنَّنَ لَكُمْ قِيَامَهُ فَمَنْ
صَامَهُ وَقَامَهُ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ
اُمُّهُ
Artinya: "Bulan ramadhan, bulan dimana Allah telah
mewajibkan kamu sekalian berpuasa dan aku sunnahkan kamu untuk melaksanakan
sholat malam. Barangsiapa puasa Ramadhan dan sholat malam dengan dasar iman dan
ihtisab, dia telah keluar dari dosa-dosanya sebagaimana hari dia dilahirkan
oleh ibunya."
Sidang Jum'at yang berbahagia
Memang benar bahwa melaksanakan ibadah puasa bukanlah sesuatu
yang mudah karena membutuhkan latihan fisik dan psikologis. Namun perlu juga
disadari bahwa tidak ada sebuah keuntungan besar yang didapatkan dengan upaya
yang ala kadarnya. Sebaliknya setiap keuntungan besar hampir dapat dipastikan
merupakan buah dari kerja keras dengan dukungan dengan modal yang besar pula.
Demikian juga dengan puasa Ramadhan. Di bulan ini, fisik kita
dilatih menahan lapar dan haus agar kita juga peka terhadap penderitaan
orang-orang miskin. Kita juga ditekankan untuk mengeluarkan infak dan sedekah
dari kelebihan harta yang kita miliki. Kesemuanya itu pada dasarnya adalah
sebuah pendidikan keimanan agar kita dapat merenung eksistensi diri kita
sebagai manusia dan hamba Allah. Lebih jauh lagi agar kita memahami tugas kita
sebagai umat Islam yang tidak hanya bertanggungjawab kepada diri kita sendiri
akan tetapi juga memiliki tanggung jawab atas umat Islam yang lainnya.
Ibadah seperti memberi infak dan shodaqah kepada orang-orang
yang miskin dan membutuhkan merupakan ibadah yang sangat penting, bukan saja di
bulan Ramadhan namun seharusnya juga selalu dilakukan di luar bulan Ramadhan.
Karena memperhatikan dan memabantu orang lain yang membutuhkan pertolongan
dapat mengasah kepekaan kita serta mempererat tali silaturrahmi dan solidaritas
sesama umat Islam. Dalam beberapa kesempatan kesempatan Rasulullah SAW
bersabda: "Muslim satu dengan yang lainnya seperti sebuah bangunan yang
saling mengokohkan satu dengan yang lainnya; Tidak sempurna iman salah satu
dari kalian hingga ia mampu mencinta saudaranya seperti ia mencintai dirinya
sendiri; Allah senantiasa menolong seorang hamba selama ia menolong
saudaranya."
Di samping itu, puasa juga merupakan benteng yang menggiring
manusia untuk berfikir sehat dan menekan hawa nafsunya. Rasulullah sendiri
mengibaratkan puasa sebagai "junnah" atau perisai. Dalam sebuah hadis
beliau bersabda:
وَالصِّيَامُ
جُنَّةٌ فَاِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفَثُ وَلا يَصْخَبُ فَاِنْ
سَابَّهُ أحَدٌ أوْ قَاتَلَهُ فَالْيَقُلْ اِنِّى صَائِمٌ
Artinya: "Puasa adalah perisai. Jika salah satu dari
kalian sedang berpuasa maka janganlah ia berkata kotor dan mengeraskan
perkataan. Jika seseorang mencacinya atau menantangnya maka hendaklah ia
berkata: 'sesungguhnya aku sedang berpuasa."
Berfikir sehat, pengendalian emosi serta menahan amarah dan
hawa nafsu ini merupakan hal yang sangat penting dalam puasa. Karena sebagai
seorang yang sedang berpuasa maka ia harus dapat memlihara seluruh panca
inderanya untuk tidak melakukan larangan Allah, terutama tidak melakukan
hal-hal yang dapat menyakiti atau merugikan orang lain, apalagi merampas harta
orang lain.
Sahabat Jabir bin Abdullah pernah berkata:
اِذَا
صُمْتَ فَالْيَصُمْ سَمْعَكَ وَ بَصَرَكَ وَلِسَانَكَ عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَأْثَمِ
وَدَعْ اَذَى الْخَادِمُ وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌوَسَكِيْنَةُ يَوْمَ صِيَامِكَ
وَلا تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَصِيَامِكَ سَوَاءً
Artinya: "Apabila engkau sedang berpuasa, hendaklah puasa
juga pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa. Jauhkanlah
menyakiti pembantu. Hendaklah engkau berlaku terhormat dan tenang di hari
ketika engkau berpuasa. Janganlah engkau samakan hari ketika engkau tidak puasa
dengan hari ketika engkau berpuasa."
Dengan demikian, dengan datangnya bulan Ramadhan ini, sudah
sepatutnya bagi kita semua untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas iman
dan ketakwaan kita serta mengisi bulan Ramadhan dengan segenap hal yang
berguna, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Dan semoga kita
semua diberikan kekuatan lahir dan batin untuk bisa melaksanakan puasa dengan
sebaik-baiknya.
رَبّنَا
تَقَبَّلْ مَنَّا اِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ
أنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ وَالْحَمْدُلِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
-----------------------

0 Response to "Contoh Khutbah Jumat Menyambut Bulan Suci Ramadhan"
Posting Komentar