Berikut ini Contoh Khutbah Jumat Akhir Hidup yang Baik.
Yang ingin punya filenya, silahkan klik link downloadnya dibawah ini!.
Download Contoh Khutbah Jumat Akhir Hidup yang Baik
Contoh Khutbah Jumat Akhir Hidup yang Baik
Contoh Khutbah Jumat Akhir Hidup yang Baik
إِنّ
الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ
مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ
أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ
صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا
النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا
زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ
بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا
الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...
فَأِنّ
أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله
عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah.
Setelah
kita mengucapkan kalimat tahmid, kalimat tahlil sebagai bentuk sanjungan dan
pujian kita kepada Dzat satu-satunya tempat kita menggantungkan diRi daRi
segala sesuatu, maka tiada kata dan ungkapan yang sepatutnya kita sampaikan
dalam majelis yang mulia ini melainkan washiyatut taqwa, yaitu satu kalimat
yang dengannya Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah menyebutkannya dalam sekian
banyak ayat, dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun seRingkali
membeRikan washiyat kepada paRa shahabatnya dalam khutbah-khutbahnya dengan
kalimat teRsebut, sebagaimana yang peRnah beliau sampaikan juga kepada dua
ORang sahabat yang beRnama Abu DzaR dan Mu’ad bin Jabal dalam Riwayat
at-TiRmidzi beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beRsabda:
اِتَّقِ
اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَاَتْبِعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ
النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Artinya:
“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu beRada, dan baRengilah peRbuatan
yang buRuk dengan peRbuatan yang baik dan beRakhlak baiklah kepada semua
manusia”. (HR. at-TiRmudzi).
Hadits
yang mulia ini, jelas-jelas telah membeRikan penjelasan kepada kita bahwa
ketaqwaan itu tidak teRbatas pada waktu dan tempat teRtentu. Namun demikian apa
yang dipahami Oleh paRa sahabat daRi kalimat yang agung ini tidaklah
sesedeRhana yang kita pahami, sebagai kalimat yang seRing kita dengaR, mudah
kita ucapkan, namun kita acapkali susah dalam menceRnanya apalagi
meRealisasikannya dalam kehidupan sehaRi-haRi. KaRena pentingnya makna kalimat
ini hadiRin yang mulia, UmaR bin Khathab Radhiayallahu 'anhu peRnah mengatakan
dalam Riwayat yang shahih,
التَّقْوَى
هُوَ اْلخَوْفُ بِاْلجَلِيلِ وَاْلعَمَلُ بِالتَّنْزِيلِ وَالرِّضَى بِالْقَلِيلِ وَاْلاِسْتِعْدَادِ
بِيَوْمِ الرَّحِيلِ
Artinya:
“At-Taqwa adalah peRasaan takut kepada Allah, beRamal dengan apa yang datang
daRi Allah dan Nabi-Nya, meRasa cukup dengan apa yang ada dan mempeRsiapkan diRi
dalam menghadapi haRi akhiR.”
Ma’asyiRal
Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah.
Sesungguhnya
bagian manusia daRi dunia ini adalah umuRnya. Apabila dia membaguskan penanaman
mOdalnya pada apa yang dapat membeRikan manfaat kepadanya di akhiRat kelak,
maka peRdagangannya akan beRuntung. Dan jika dia menjelekkan penanaman mOdalnya
dengan peRbuatan-peRbuatan maksiat dan kejahatan sampai dia beRtemu dengan
Allah pada penghabisan (akhiR hidup) yang jelek itu, maka dia teRmasuk
ORang-ORang yang meRugi.
Allah
Subhanahu wa Ta'ala beRfiRman,
مَنْ
عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً
طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya:
"BaRangsiapa yang beRamal shalih, baik laki-laki maupun peRempuan dan
dia (dalam keadaan) beRiman, maka sesungguhnya akan Kami beRikan kepadanya
kehidupan yang baik. dan sesungguhnya akan Kami beRikan balasan kepada meReka
dengan pahala yang lebih baik daRi apa yang telah meReka keRjakan." (Q.S
an-Nahl:97).
Dalam
ayat yang lain Allah Ta'ala beRfiRman,
فَمَنْ
يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شّرًّا
يَرَهُ
Artinya:
“BaRangsiapa yang mengeRjakan kebaikan sebeRat dzaRRahpun, niscaya dia akan
melihat (balasan)nya. Dan baRangsiapa yang mengeRjakan kejahatan sebeRat
dzaRRahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. al-Zalzalah:7-8)
Dalam
ayat yang lain Allah Ta’ala menegaskan,
أَفَحَسِبْتُمْ
أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَتُرْجَعُونَ . فَتَعَالَى
اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لآإِلَهَ إِلاَّهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Artinya:
“Maka apakah kamu mengiRa, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secaRa
main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Maha
Tinggi Allah, Raja Yang SebenaRnya;tidak ada ilah (yang beRhak disembah) selain
Dia, Rabb (Yang mempunyai) 'ARsy yang mulia.” (QS. al-Mu’minun:115-116)
Ma’asyiRal
Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!
KaRenanya
ORang yang beRakal adalah ORang yang dapat menghisab (menghitung) amalan
diRinya sebelum Allah Ta'ala menghitungnya, dan dia meRasa takut dengan dOsa-dOsanya
itu menjadi sebab akan kehancuRannya.
HadiRin
yang mulia sementaRa itu kematian dan akhiR hidup seseORang akan selalu
menjemputnya, kapan Allah Ta'ala menghendaki niscaya tidak ada seORangpun yang
dapat meRubahnya, dia tidak dapat menghindaRi daRi sebuah kenyataan yang akan
menjemputnya. Allah ta'ala berfirman,
كُلُّ
نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya:
"Tiap-tiap yang beRjiwa akan meRasakan mati. Dan sesungguhnya pada haRi
kiamat sajalah disempuRnakan pahalamu. BaRangsiapa dijauhkan daRi neRaka dan
dimasukkan ke dalam suRga maka sungguh ia telah beRuntung. Kehidupan dunia itu
tidak lain hanyalah kesenangan yang mempeRdayakan.” (QS. Ali ImRan:185)
Marilah
kita tanyakan kepada diRi kita masing-masing, apa yang telah menjadikan diRi
kita teRpedaya dengan gemeRlapnya kehidupan dunia, akankah akhiR hidup kita
akhiR hidup yang baik atau bahkan sebaliknya? Na'udzubillahi min dzalik.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah.
Dalam
sebuah Riwayat al-BukhaRi dan Muslim yang beRsumbeR daRi Said al-KhudRiy yang
mengisahkan seORang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan ORang, kemudian
genap seRatus ORang. Dan pada akhiR ceRita, dia dikisahkan meninggal dalam
keadaan mukmin kaRena taubatnya. (HR. al-BukhaRi dan Muslim daRi Said
al-KhudhRiy).
Dan
Sebaliknya dalam Riwayat yang lain dikisahkan suatu ketika ada seORang
laki-laki ikut beRpeRang beRsama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallamuntuk
menghadapi kaum MusyRikin sehingga dia teRluka. Dan kaRena tidak kuasa menahan
Rasa sakit, akhiRnya dia bunuh diRi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
beRsabda, "Dia teRmasuk ahli neRaka". Setelah itu seseORang
mendatangi nabi menceRitakan kejadian ini. Kemudian Rasullah beRsabda,
إِنَّ
الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ اْلجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ
أَهْلِ النَّارِ، وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو
لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ (رواه البخاري ومسلم)
Artinya:
“Sungguh seORang benaR-benaR melakukan peRbuatan penduduk suRga di hadapan
manusia, namun (sebenaRnya) dia teRmasuk penghuni neRaka, dan sungguh seseORang
benaR-benaR melakukan peRbuatan penghuni neReka di hadapan manusia, namun
(sebenaRnya) di a teRmasuk penghuni suRga .” (HR. al-BukhaRi dan Muslim).
Dua Riwayat di atas telah tegas dan
jelas menunjukkan bahwa akhir hidup seseorang, baik dan buRuknya tidak ada seorangpun
yang dapat mengetahuinya.
Dan akhir hidup seseorang ditentukan oleh
baik-dan buRuknya akhir perjalanan hidupnya, yang telah Allah Subhanahu
wata’ala tentukan dalam taqdiRnya.
Dalam Riwayat Ahmad dengan sanad yang
shahih dari 'Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah bersabda,
إِنَّ
الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ اْلجَنَّةِ وَهُوَ مَكْتُوبٌ مِنْ أَهْلِ النَّارِ،
فَإِذَا كَانَ قَبْلَ مَوْتِهِ تَحَوَّلَ، فَعَمِلَ أَهْلَ النَّارِ، فَمَاتَ فَدَخَلَ
النَّارَ. وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مَكْتُوبٌ
مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ، فَإِذَا كَانَ قَبْلَ مَوْتِهِ تَحَوَّلَ، فَعَمِلَ أَهْلَ
اْلجَنَّةِ، فَمَاتَ فَدَخَلَ اْلجَنَّةَ.
Artinya:
“Sesungguhnya seseORang benaR-benaR melakukan peRbuatan penghuni suRga,
sedangkan dia dicatat sebagai penghuni neRaka. Maka sebelum kematian menjemput,
ia beRubah dan mengeRjakan peRbuatan penghuni neRaka, kemudian ia mati, maka
masuklah ia ke dalam neRaka. Dan sesungguhnya seseORang benaR-benaR melakukan
peRbuatan penghuni neRaka sedangkan dia dicatat sebagai penghuni suRga. Maka
sebelum kematian menjemput, ia beRubah dan melakukan peRbuatan penghuni suRga,
kemudian ia mati, maka masuklah ia ke dalam suRga.”
Dalam
Riwayat lain yang beRsumbeR daRi Ali bin Abi Thalib, diceRitakan ada seORang
laki-laki beRtanya kepadanya:
فقال
رجل: يا رسول الله، أفلا نمكث على كتابنا وندع العمل؟ فقال : اعملوا فكل ميسر لما خلق
له. أما أهل السعادة فييسرون لعمل أهل السعادة. وأما أهل الشقاوة فييسرون لعمل أهل
الشقاوة، ثم قرأ : (فأما من أعطي واتقي ) سورة الليل: 5)
Artinya:
“SeseORang lelaki beRtanya, Wahai Rasulullah!, apakah kita tidak pasRah
teRhadap taqdiR (ketentuan)Allah Ta'ala teRhadap kita dan meninggalkan amalan?
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “BeRamalah kalian! Maka
setiap ORang akan dimudahkan sebagaimana apa yang ditakdiRkan baginya.” Adapun
ORang yang ditakdiRkan bahagia, maka ia akan dimudahkan untuk melakukan
peRbuatan gOlOngan ORang-ORang yang bahagia. Sedangkan ORang yang ditakdiRkan
sengsaRa, maka ia pun akan dimudahkan untuk melakukan peRbuatan gOlOngan
ORang-ORang yang sengsaRa. Kemudian beliau membaca ayat, “Adapun ORang yang
membeRikan (haRtanya di jalan Allah) dan beRtaqwa, (QS. al-Lail : 5)
Dalam
hadits-hadits di atas telah menunjukkan bahwa kebahagiaan dan kesengsaRaan di
akhiR hayat telah Allah Ta'ala tentukan di dalam kitabNya (taqdiRnya). Dan yang
demikian beRdasaRkan amalnya yang meRupakan sebab keduanya. Maka akhiR hidup
yang baik atau sebaliknya ditentukan dengan keadaan akhiR amalannya.
sebagaimana
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam beRsabda dalam Riwayat yang lain daRi
Sahl bin Said:
إنما
الأعمال بالخواتيم
Artinya:
“Sesungguhnya segala amal itu teRgantung dengan akhiRnya.”
Maka
baRangsiapa yang yang telah mengikuti tuntunan Allah Ta'ala dan NabiNya, maka
akhiR hayatnya adalah meRupakan akhiR hayat yang baik, sebaliknya baRangsiapa
dalam hidupnya senantiasa mengikuti hawa nafsu dan syaithan, maka niscaya dia
akan mendapatkan akhiR hidup yang tidak baik, kaRena dOsa-dOsa yang dia lakukan
selama hidupnya, sebagaimana peRnah dikisahkan Oleh Abdul Aziz bin Rawad yang
dinukil Oleh Ibnu Rajab dalam kitabnya, suatu haRi dia menjumpai seORang yang
akan meninggal dunia, kemudian ditalqinkan untuk mengucapkan kalimat Tauhid,
namun teRnyata dia tidak bisa mengucapkan, dan dia beRkata pada akhiR
peRkataannya: Dia telah mengkufuRi kalimat teRsebut. Dan meninggal dalam
kekufuRan. Kemudian Abdul Azis menanyakan tentang dia, maka dikatakan dia
adalah seORang peminum khamR. Kemudian Abdul Aziz mengatakan:
اتقوا
الذنوب فإنها هي التى أوقعته
Artinya:
“BeRhati-hatilah kalian teRhadap segala (bentuk) dOsa dan maksiat, kaRena
dOsa-dOsa itulah yang menyebabkannya.”
اللهم
أعدنا من عذاب النار ومن عذاب القبر، وأعدنا من فتنة المحيا والممات،ومن فتنة المسيح
الدجال. اللهم ارحمنا عند
سكرات
الموت، ووسع لنا في قبورنا, وثبتنا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الأخرة.وتوبوا
إلى الله جميعا أيها المؤمنون، إنه هو الغفور الرحيم.
وْلُ
قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

0 Response to "Contoh Khutbah Jumat Akhir Hidup yang Baik"
Posting Komentar